Jakarta, CNN Indonesia —
Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik (Perum Bulog) menargetkan ekspor beras hingga 1 juta ton pada 2026 seiring terjaganya stok beras nasional dan tercapainya swasembada pangan. Adapun salah satu negara yang menjadi tujuan ekspor tahun ini Timor-Leste.
Langkah ini diambil untuk menjaga perputaran stok beras di gudang sekaligus memperluas pasar Indonesia ke luar negeri.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya tengah membidik sejumlah negara tetangga sebagai pasar potensial untuk ekspor beras tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Coba dijajaki dulu tetangga kita. Mungkin yang terdekat adalah Timor-Leste, Malaysia, Papua Nugini (PNG), termasuk Filipina,” ujarnya.
Rizal menyebut Bulog telah mulai menjajaki peluang ekspor melalui komunikasi dengan para atase perdagangan Indonesia di luar negeri. Penjajakan dilakukan untuk menyesuaikan prosedur dan harga sebelum realisasi ekspor dilakukan.
“Kita akan coba jajaki. Dan kemarin kami sudah berkomunikasi dengan para atase-atase perdagangan untuk menjajaki ini. Nah, mereka juga sedang berkomunikasi dengan negara-negara yang bersangkutan untuk mencocokkan bagaimana prosedurnya, kemudian harganya berapa,” jelasnya.
Menurut Rizal, ekspor beras juga penting untuk menjaga kualitas stok dan mencegah kelebihan kapasitas gudang. Perputaran beras dinilai krusial agar stok tetap layak konsumsi.
“Nah, ini untuk meringankan beban gudang Mas. Karena gudang kan harus berputar berasnya. Kalau nggak berputar nanti rusak berasnya di datang,” katanya.
Adapun posisi stok beras nasional saat ini Rizal mengklaim cukup kuat. Pada akhir 2025 hingga Januari 2026, cadangan beras Bulog masih berada di kisaran 3,2 juta ton. Sementara pada 2026, Bulog ditargetkan menyerap tambahan 4 juta ton beras.
“Kebetulan di tahun 2025, bukan kebetulan, memang direncanakan 2025 swasembada pangan dan terbukti swasembada pangan. Swasembada pangan kami ini sekarang kan stoknya masih ada di bulan Desember kemarin 3,2 juta ton, sampai bulan Januari ini. Nah, dihadapkan dengan nanti ke depan sampai Desember 2026, kami ditargetkan 4 juta ton serapannya,” kata Rizal dalam CNN Indonesia Business, Selasa (20/1).
Dengan tambahan target penyerapan tersebut, total ketersediaan beras Bulog diproyeksikan mencapai sekitar 7 juta ton hingga akhir 2026. Dari jumlah itu, sebagian akan dialokasikan untuk ekspor sesuai arahan Menteri Pertanian.
“Selain kegiatan ekspor yang 1 juta ton, ini kita ekspor rencana sesuai arahan dari Pak Mentan,” jelas Rizal.
[Gambas:Video CNN]
Meski menargetkan ekspor, Bulog memastikan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas. Rizal menegaskan perhitungan stok menunjukkan cadangan nasional tetap aman meski 1 juta ton beras dilepas ke pasar luar negeri.
Dia memaparkan, dari total ketersediaan beras Bulog 2026 yang diproyeksikan mencapai 7 juta ton, sekitar 1 juta akan dimanfaatkan untuk ekspor. Sisanya, akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik seperti 2,5 juta ton untuk konsumsi beras premium dalam negeri, sekitar 1,5 juta ton untuk SPHP, dan 500 ribu ton dialokasikan untuk kebutuhan darurat bencana. Alhasil, hingga akhir tahun diperkirakan stok beras Bulog masih tersisa 1,5 juta ton.
Dengan skema tersebut, Bulog optimistis stabilitas pasokan dan harga beras di dalam negeri tetap terjaga, sekaligus membuka peluang ekspor sebagai bagian dari agenda swasembada dan penguatan peran Indonesia di pasar pangan regional.
(lau/ins)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
