Jakarta, CNN Indonesia —
Suku Sherpa di Gunung Everest mengkhawatirkan pekerjaan mereka setelah rencana diumumkan untuk menggunakan pesawat nirawak atau drone buatan China untuk mengangkut peralatan pendaki ketika naik dan turun gunung tertinggi di dunia itu.
Tugas berbahaya yang biasanya memakan waktu berjam-jam dengan berjalan kaki kini akan selesai dalam hitungan menit, karena pesawat nirawak yang mampu membawa beban hingga 15 kg tampaknya akan mengubah pengalaman pendakian Gunung Everest.
Pesawat nirawak akan digunakan untuk membawa tabung oksigen ke atas gunung, mengambil tangga dari rute pendakian, dan membuang sampah yang ditinggalkan pendaki gunung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesawat nirawak juga akan digunakan untuk mengirimkan makanan hangat. Diharapkan pesawat nirawak akan mengurangi sebagian risiko yang dihadapi Suku Sherpa, dengan mengurangi tugas-tugas kasar.
Namun, politisi, serikat pekerja, dan Sherpa mengecam program “bodoh” tersebut, yang menurut mereka akan menyingkirkan banyak tenaga kerja dari tim pendukung pendakian Gunung Everest.
“Pengenalan pesawat nirawak dapat merenggut mata pencaharian ribuan Sherpa,” kata Ajay Kumar Rai, sekretaris jenderal Kongres Serikat Buruh Nepal, kepada Telegraph, seperti dilansir NZ Herald.
“Selama enam bulan, mereka mempertaruhkan nyawa mereka di Everest, dan selama sisa tahun ini, mereka tidak punya pekerjaan. Jika pesawat nirawak mulai menggantikan mereka, apa yang akan mereka lakukan?” ujar Ajay Kumar Rai.
Dia menambahkan bahwa perubahan iklim telah menghantam Sherpa dengan keras, dengan longsor dan tanah longsor mengusir pendaki dan mengurangi pendapatan mereka. Biasanya, Sherpa memperoleh sekitar US$9000) per musim.
“Sekarang, teknologi mengancam untuk mendorong mereka lebih jauh ke tepi jurang. Kami mendesak Pemerintah Nepal untuk menghentikan penggunaan pesawat nirawak atau memastikan para pekerja ini diberi pekerjaan alternatif,” tuturnya.
“Orang-orang ini telah menghabiskan hidup mereka menjelajahi medan Everest yang berbahaya, membawa perbekalan, dan memandu pendaki. Mata pencaharian mereka tidak bisa begitu saja diabaikan.
Anggota parlemen Nepal, Rajendra Bajgain menekankan akan berjuang untuk memastikan Sherpa tidak tertinggal. “Jika inisiatif bodoh ini terus berlanjut, Pemerintah harus menyediakan makanan dan fasilitas kesehatan bagi para Sherpa dari royalti yang dikumpulkan dari para pendaki,” ucap Bajgain.
Berbagai drone telah diuji selama setahun terakhir, dan program percontohan musim ini bertujuan untuk meyakinkan operator ekspedisi untuk berinvestasi dalam teknologi tersebut.
Para pejabat Nepal mengatakan bahwa pesawat tanpa awak dapat mengurangi beban berat yang harus ditanggung para Sherpa, yang selama puluhan tahun mempertaruhkan nyawa mereka untuk membawa beban berat bagi para pendaki asing melalui Air Terjun Es Khumbu di Gunung Everest.
(wiw)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA