Gaduh Skin Booster ‘Kulit Mayat’, BPOM hingga Perhimpunan Dokter Kulit Angkat Bicara

Jakarta

Tren perawatan kulit asal Korea Selatan yang disebut berasal dari “kulit mayat” terus memicu perbincangan hangat. Di balik iming-iming hasil yang instan dan tahan lama, aspek keamanan serta regulasi penggunaannya kini menjadi pertanyaan.

Skin booster “kulit mayat” yang menggunakan jaringan donor manusia (Human Acellular Dermal Matrix atau hADM) kini berada dalam pengawasan ketat di Indonesia.

Pihak-pihak yang berwenang telah memberikan peringatan terkait risiko medis dan status legalitas produk tersebut. Di antaranya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi Indonesia (PERDOSKI).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



BPOM Turun Tangan Lakukan Investigasi

Maraknya promosi dan isu peredaran skin booster berbasis hADM di Indonesia juga telah direspons oleh BPOM. Kepala BPOM, dr Taruna Ikrar menegaskan, hingga saat ini belum ada produk skin booster dari jaringan dermis donor manusia asal Korea Selatan yang mengantongi izin edar resmi di Indonesia.

Ia mengatakan, investigasi sedang berjalan untuk mengusut peredaran produk ini.

“Lagi diinvestigasi sama Kedeputian 1 dan Kedeputian 4. Jadi saya kira, memang saya sudah dengar laporan itu, tapi kan kita harus turun ke lapangan untuk melihat produk-produk tersebut,” ucap Taruna saat sesi doorstop bersama wartawan, Kamis (17/9/2026).

“Yang jelas, kalau dia melanggar aturan ya kita hukum,” tambahnya.

PERDOSKI Soroti Risiko Medis dan Legalitas

Ketua PERDOSKI dr Hanny Nilasari, SpDVE, Sub.Ven meluruskan fenomena viral ini sekaligus mengingatkan tingginya risiko komplikasi jika prosedur dilakukan menggunakan produk yang belum teruji.

Meski diproses secara medis di negara asalnya, dr Hanny menekankan, di Korea Selatan pun penggunaan hADM diawasi sangat ketat dan hanya boleh disuntikkan oleh dokter spesialis kulit atau bedah plastik, bukan oleh praktisi kecantikan biasa.

Ia menambahkan, penyuntikan bahan biologis cair langsung ke dalam pembuluh darah atau jaringan kulit memiliki risiko kesehatan yang fatal jika tidak melalui penyaringan BPOM dan Kemenkes.

Sebab, penggunaan jaringan donor manusia berpotensi memicu reaksi penolakan tubuh, iritasi lokal berat, peradangan, hingga reaksi penyumbatan pembuluh darah.

Lebih lanjut, ia memperingatkan para dokter dan masyarakat di Indonesia agar tidak melanggar aturan hukum serta tetap memprioritaskan keamanan pasien.

“Masyarakat tidak boleh hanya tergiur klaim tahan lama tanpa memastikan keamanan dan izin resminya,” katanya kepada detikcom, Rabu (16/9/2026).

Halaman 2 dari 2

Simak Video “Video Mengenal hADM: Fakta Medis di Balik Skin Booster ‘Kulit Mayat’
[Gambas:Video 20detik]

(aur/up)


Skincare Kulit Mayat ala Korea

12 Konten

Produk skin booster berbahan Human Acellular Dermal Matrix (hADM) tengah ramai dibicarakan, disebut-sebut berasal dari ‘kulit mayat’. Skincare asal Korsel ini rupanya bukan barang baru, biasa dipakai dalam rekonstruksi luka bakar dan pembedahan.

Konten Selanjutnya

Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version