Ahli Ungkap 2025 Tahun Terpanas Ketiga Sepanjang Sejarah


Jakarta, CNN Indonesia

Para ilmuwan mengonfirmasi bahwa 2025 menjadi tahun terpanas ketiga dalam sejarah pencatatan, yang didorong peningkatan polusi bahan bakar fosil hingga suhu global mencapai level “luar biasa”.

Dalam laporan terbarunya, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut 2025 melanjutkan tren tiga tahun berturut-turut dengan suhu global yang “luar biasa”, di mana suhu udara permukaan rata-rata tercatat 1,48 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Badan Iklim Copernicus Uni Eropa, laju pemanasan saat ini berisiko melampaui batas 1,5 derajat Celsius (2,7 derajat Fahrenheit) Perjanjian Paris, yang diukur selama 30 tahun untuk menghilangkan fluktuasi alami sebelum akhir dekade ini.

Hal ini terjadi lebih dari 10 tahun lebih awal dari perkiraan para ilmuwan saat para pemimpin dunia menandatangani perjanjian tersebut pada tahun 2015.





Direktur layanan perubahan iklim Copernicus Carlo Buontempo mengatakan “Kita pasti akan melewatinya.”

“Pilihan yang kita miliki sekarang adalah bagaimana cara terbaik untuk mengelola kelebihan yang tak terhindarkan dan konsekuensinya,” tambah Carlo, mengutip The Guardian, Rabu (14/1).

Delapan dataset yang diterbitkan pada Rabu didasarkan pada miliaran pengukuran cuaca yang dikumpulkan oleh satelit, kapal, pesawat terbang dan stasiun cuaca.

Beberapa organisasi yang memantau iklim global di Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan China mengompilasinya secara terpisah, dengan perbedaan kecil dalam hasilnya.

Analisis terpadu WMO menemukan bahwa 2025 lebih panas 1,44 derajat Celcius dibanding periode praindustri, saat perusakan alam skala besar dan pembakaran batu bara, minyak, dan gas dimulai secara intensif.

Enam dari dataset tersebut menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas ketiga dalam catatan, sementara dua lainnya menempatkannya sebagai tahun terpanas kedua.

Tahun terpanas dalam catatan sejak pertengahan abad ke-19 adalah 2024, yang dilanda gelombang panas dan kebakaran hutan. Badan Meteorologi Inggris (Met Office) menyatakan bahwa variasi alami dan penurunan polutan aerosol yang menyembunyikan panas telah membuat beberapa tahun terakhir menjadi sangat panas.

Tim Osborn, direktur Unit Penelitian Iklim Universitas East Anglia, yang bekerja sama dengan Met Office untuk menghasilkan data tersebut, mengatakan bahwa pola cuaca alami di Pasifik, El Niño, menambah sekitar 0,1 derajat Celsius pada suhu global pada 2023 dan 2024. Hal ini berkontribusi pada “mulai tiba-tiba lonjakan suhu baru-baru ini.”

“Pengaruh alami ini akan melemah pada tahun 2025,” katanya.

“Dan oleh karena itu, suhu global yang kita amati pada 2025 memberikan gambaran lebih jelas tentang pemanasan yang mendasarinya,” tambah tim tersebut.

Copernicus melaporkan bahwa Januari 2025 adalah Januari terpanas dalam catatan, sementara Maret, April, dan Mei masing-masing menjadi bulan terpanas kedua untuk bulan-bulan tersebut.

Para ilmuwan menemukan bahwa setiap bulan kecuali Februari dan Desember lebih panas, daripada bulan yang sama di tahun mana pun sebelum 2023.

Panas yang tidak wajar ini sebagian besar disebabkan lapisan polusi karbon yang menutupi Bumi, memperburuk sebagian besar ekstrem cuaca, dan mengancam kondisi stabil di mana umat manusia telah berkembang.

Copernicus menemukan bahwa suhu di atas Samudra Atlantik dan Samudra Hindia tropis pada 2025 kurang ekstrem dibandingkan 2024. Namun, suhu yang lebih rendah ini sebagian diimbangi oleh suhu lebih tinggi di kutub. Antarktika mencatat tahun terpanas, dan Arktik mencatat tahun terpanas kedua.

Pada Februari, tutupan es laut di kutub turun ke level terendah sejak pengamatan satelit dimulai pada 1970-an. Secara keseluruhan, setengah dari daratan Bumi mengalami lebih banyak hari daripada rata-rata dengan setidaknya “stres panas yang kuat”, ketika suhu terasa di atas 32 derajat Celsius.

Berkeley Earth, sebuah organisasi nirlaba AS yang juga menganalisis suhu, memperkirakan bahwa 8,5 persen populasi dunia tinggal di daerah yang mengalami suhu rata-rata tahunan tertinggi sepanjang sejarah pada tahun lalu. Para ilmuwannya mengatakan bahwa panas serupa kemungkinan akan terjadi pada tahun 2026.

Bill McGuire, seorang profesor emeritus bidang bahaya iklim di University College London yang tidak terlibat dalam analisis tersebut, menggambarkan temuan tersebut sebagai “berita suram namun jauh dari tak terduga.”

“Secara praktis, batas 1,5 derajat Celsius kini sudah tidak relevan lagi,” katanya.

Ia menambahkan bagaimanapun cara memandangnya, krisis iklim yang berbahaya telah tiba, namun sedikit sekali tanda bahwa dunia siap atau bahkan memberikan perhatian serius.

Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) melaporkan bahwa anomali panas terbesar terjadi di Eropa, Arktik, Asia Barat dan Selatan, serta sebagian Antarktika.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, NOAA dan NASA tidak mengadakan acara publik atau menarik perhatian media untuk laporan suhu tahunan mereka. Alih-alih, data tersebut diterbitkan secara diam-diam di situs web mereka pada Rabu pagi.

Di bawah pemerintahan Donald Trump, lembaga pemerintah AS telah menghapus atau menurunkan informasi tentang krisis iklim, melarang penyebutan pemanasan global, dan memecat peneliti yang terlibat dalam laporan periodik yang diwajibkan oleh Kongres untuk memperbarui ilmu iklim terbaru dan dampaknya di AS.

“Pemerintahan Trump tidak hanya menolak untuk mengakui kenyataan perubahan iklim yang kita alami, tetapi juga secara aktif menyebarkan kebohongan tentang ilmu pengetahuan dan merusak sumber daya ilmiah federal negara kita,” kata Dr Carlos Martinez, seorang ilmuwan iklim senior di Union of Concerned Scientists, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada advokasi.

“Mereka bertindak seolah-olah tidak ada hari esok dengan mencoba memaksa pembakaran batu bara, minyak, dan gas yang lebih banyak, yang akan menelan korban jiwa dan membuat Bumi menjadi tempat yang lebih sulit untuk dihuni di tahun-tahun mendatang,” lanjut Martinez.

Sepuluh tahun setelah Perjanjian Paris ditandatangani, emisi global terus meningkat meskipun terjadi lonjakan energi terbarukan dan keberhasilan regional dalam membersihkan ekonomi yang kotor.

Laurence Rouil, direktur Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus, mengatakan bahwa data tahun 2025 secara jelas menunjukkan bahwa aktivitas manusia masih menjadi faktor utama penyebab suhu ekstrem.

“Atmosfer sedang memberi kita pesan, dan kita harus mendengarkannya,” ungkap Rouil.

(wpj/fea)

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version