loading…
Di balik megahnya Queen Sirikit National Convention Center, pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) kali ini dinaungi suasana mencekam. Foto/Dok
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva menyuarakan peringatan, yang sangat dingin menjelang pembukaan perhelatan besar yang dihadiri oleh lebih dari 18.000 peserta tersebut. “Winter is coming (Musim dingin sedang tiba),” tegas Georgieva, menggambarkan betapa rapuhnya fondasi ekonomi dunia saat ini.
Sorotan publik tertuju pada ketidakhadiran Menteri Keuangan AS, Scott Bessent yang memilih bertahan di Washington untuk mengurusi agenda domestik, sebuah langkah yang berpotensi memicu kekecewaan di antara para menteri keuangan G20 di tengah eskalasi perang dan ketegangan politik luar negeri. Namun, Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh dipastikan hadir untuk berdiskusi langsung dengan pimpinan IMF.
Presiden Bank Dunia, Ajay Banga mengungkapkan, bahwa meski pertumbuhan ekonomi global sempat bertahan pasca-penutupan Selat Hormuz oleh Iran, tekanan baru kini datang beruntun dari berbagai penjuru. Baca Juga: IMF Wanti-wanti, AI, Krisis Energi dan Lonjakan Utang Ancam Ekonomi Global
Guncangan Pasokan BBM, memicu lonjakan tajam harga diesel akibat kehancuran kapasitas kilang. Selain itu kenaikan harga pupuk yang mengancam rantai pasok makanan.
Ditambah ancaman bencana iklim membayangi, dimana gelombang fenomena iklim “Super” El Niño yang diproyeksikan para ahli dapat memicu hingga 450.000 kematian akibat gelombang panas extreme. Baca Juga: Utang Global Cetak Rekor, IMF Desak Pemerintah Segera Bertindak
“Ini bukan hanya soal El Niño berdiri sendiri, melainkan kombinasinya. Apa yang terjadi pada harga pupuk? Biaya energi? Dan beban utang? Kombinasi inilah yang menciptakan tantangan raksasa,” jelas Banga.
Ledakan Utang Negara Berkembang: Bayar Bunga Tembus USD400 Miliar
Satu masalah terbesar yang membayangi para pembuat kebijakan di Bangkok adalah beban utang publik global yang menyentuh level tertinggi sejak Perang Dunia II dan diproyeksi melampaui 100% dari PDB dunia sebelum 2030.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











