Krisis Chip AI Bikin Harga HP Melonjak, Redmi Note 17 Series Pilih Jalan Berbeda

loading…

Lini terlaris Xiaomi sepanjang sejarah hadir dengan formula baru: bukan yang paling kencang, tapi yang paling tahan. Foto: Xiaomi

JAKARTA – Harga naik. Spesifikasi stagnan. Itulah wajah industri smartphone di 2026. Bukan gosip. Counterpoint Research dan IDC sudah mengonfirmasinya awal tahun ini: biaya komponen dasar melonjak signifikan. Tapi lompatan spesifikasi yang sepadan? Hampir tidak ada.

Penyebabnya satu: AI.

Kebutuhan komputasi AI meledak. Kapasitas produksi chip DRAM dan NAND tersedot untuk kebutuhan pusat data. Pasokan untuk ponsel konsumen menipis. Harga merangkak naik.

Produsen pun terjepit. Di segmen menengah, pilihan mereka cuma dua: naikkan harga, atau diam-diam potong spesifikasi tanpa ganti nama model demi menjaga margin laba. Dua-duanya merugikan konsumen.

Inilah yang disebut paper-spec race. Perlombaan angka di atas kertas. RAM bertambah. Penyimpanan membengkak. Tapi pengalaman pakai sehari-hari? Hampir tidak berubah. Konsumen bayar lebih, dapat lebih sedikit.

“Pasar smartphone telah memasuki salah satu periode tersulitnya. Penyebabnya adalah keterbatasan pasokan memori yang akut, yang berdampak langsung pada pengiriman sekaligus permintaan,” beber Nabila Popal, Senor Director with IDC’s Data & Analytics.

Senior Analyst Counterpoint Research, Shilpi Jain, mencatat dalam laporan Indonesia Smartphone Tracker Q1 2026, bahwa penurunan pasar Indonesia terjadi pada periode ketika indikator ekonomi nasional justru menunjukkan perbaikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyebab utama penurunan berasal dari sisi biaya komponen, bukan semata dari daya beli konsumen.

Strategi Xiaomi Lewat Redmi Note

500 juta unit. Bukan angka sembarangan. Xiaomi tidak sembarangan menyikapi situasi ini.

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version