Bisnis  

Punya Rute Lain, Ekspor Minyak Negara Teluk Dekati Level sebelum Perang

loading…

Ekspor minyak mentah dari Timur Tengah kembali mendekati level sebelum perang. FOTO/AP

WASHINGTON – Ekspor minyak mentah dari Timur Tengah kembali mendekati level sebelum perang setelah produsen utama di kawasan tersebut meningkatkan pengiriman melalui jaringan pipa, pelabuhan alternatif, dan transfer antarkapal. Langkah itu dilakukan untuk mengatasi gangguan distribusi akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

“Rata-rata ekspor minyak mentah dari Timur Tengah selama 10 hari telah pulih menjadi 17,5 juta barel per hari, atau 98 persen dari level sebelum perang,” kata analis J.P. Morgan dalam laporan yang dikutip dari WSJ, Rabu (30/9/2026).

Baca Juga: AS Sita Minyak Iran Senilai Rp10 Triliun, Hukum Kuno Rampasan Perang Disorot

Arus minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur keluar-masuk minyak paling strategis di dunia, mengalami penurunan tajam setelah perang AS-Iran dimulai pada 28 Februari. Kondisi tersebut mendorong Arab Saudi sebagai eksportir minyak terbesar dunia, serta produsen Teluk lainnya seperti Uni Emirat Arab, mengalihkan pengiriman melalui pipa dan pelabuhan yang tidak melewati selat tersebut.

Pemulihan ekspor berlangsung meski sejumlah rute alternatif menghadapi gangguan, termasuk serangan terhadap pipa minyak penting Arab Saudi dan ancaman kelompok militan yang berafiliasi dengan Iran terhadap kapal-kapal di koridor pelayaran lain. Produsen minyak kawasan tersebut dinilai berhasil menemukan jalur alternatif untuk mempertahankan arus ekspor.

Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak mentah dari produsen kawasan Teluk mencapai 19 juta barel per hari hingga Senin (28/9). Minyak mentah menyumbang hampir 90 persen pemulihan total ekspor minyak kawasan pada September, terutama didorong peningkatan pengiriman melalui Selat Hormuz.

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA