Sebuah riset kesehatan terbaru yang dirilis Kementerian Kesehatan Singapura dan Health Promotion Board (HPB), yakni badan yang bertanggung jawab atas promosi kesehatan di Singapura, mengungkap fenomena menarik terkait gaya hidup masyarakatnya.
Meski makin rajin berolahraga dan sukses memangkas konsumsi gula, warga Singapura justru kedapatan mengonsumsi kalori, lemak jenuh, dan garam (natrium) dalam jumlah berlebih.
Riset tersebut mencatat rata-rata asupan kalori harian warga melonjak hingga 2.460 kalori per hari. Sebanyak 57 persen warga tercatat makan melebihi kebutuhan energi harian, dengan kelompok usia muda (18-29 tahun) sebagai penyumbang terbesar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak cuma asupan kalori, asupan garam harian warga juga meroket tajam dari 3.480 mg menjadi 4.000 mg per hari. Angka ini dua kali lipat melebihi batas aman harian yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 2.000 mg atau setara 1 sendok teh garam.
Bahkan, 95 persen warga Singapura terbukti mengonsumsi garam secara berlebihan setiap hari. Lantas, apa pemicu utamanya?
Sering Makan di Luar dan Gemar Makanan Berkuah
Dikutip dari Channel News Asia, analisis mendalam dari HPB menemukan bahwa kebiasaan makan di luar menjadi faktor utama melonjaknya asupan kalori dan garam. Sebanyak 7 dari 10 warga Singapura tercatat makan di luar rumah setidaknya satu kali dalam sehari.
Dari berbagai jenis menu yang diteliti, makanan berkuah menyumbang asupan garam paling tinggi, yakni mencapai 358 mg natrium per 1.000 kalori. Posisi selanjutnya disusul oleh makanan olahan, nasi atau mi berbumbu.
Selain itu, hidangan kekinian seperti mala xiang guo dan tomato hot pot yang kerap disajikan dalam porsi besar.
Kandungan kalori pada makanan populer juga meningkat signifikan. Satu porsi nasi ayam (chicken rice) yang tadinya mengandung 557 kalori kini membengkak jadi 646 kalori, sementara porsi nasi biryani melonjak hingga 1.310 kalori.
Olahraga Saja Tidak Cukup
Meski 87,3 persen warga Singapura sudah memenuhi target aktivitas fisik harian, otoritas kesehatan setempat menegaskan bahwa rajin bergerak saja tidak bisa menutupi buruknya pola makan.
Tingginya asupan garam dan lemak jenuh yang diabaikan secara terus-menerus dapat memicu penumpukan plak pembuluh darah, yang berujung pada meningkatnya risiko tekanan darah tinggi (hipertensi), stroke, hingga serangan jantung.
Guna menekan angka penyakit metabolik ini, pemerintah Singapura berencana memperketat regulasi pelabelan Nutri-Grade untuk kandungan garam dan lemak jenuh pada bahan makanan kemasan mulai 2028 mendatang.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video: Pilates dengan View Laut dari Atas Yacht“
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
